ATN - Mari kita melihat kelucuan dari berbagai kelakuan yang disengaja atau nga disengaja..
Simak keunikan kelucuan dan keanehan yang berhasil dikumpulkan berita aneh dari berbagai situs..
1. Menerima Pesanan antar kambing.. (nga tau deh ini di daerah mana)
2. Solusi menangani tetangga yang sombong
"Apakah tetangga anda ada yang sombong atau berisik? Pasti ada donk..
Nah kali ini team kami memberikan solusi yang super lucu dan unik untuk menangani tetangga yang sombong dan berisik tersebut.. Anda berani mencobanya?? Sebaiknya jangan deh..
3. Polisi Teladan; Siapapun Melanggar>>> TILANG…!!
"Polisi Teladan - siapa yang salah harus ditilang tanpa terkecuali.. (Mengandung Photoshop)
4. Nasib tukang bakso
5. Saat Power Rangers berubah profesi
Terakhir,,,,
Ngantuk niyee....
Eeaakk.. Semoga terhibur..
Tunggu bagian ke 2 nya..
Minggu, 23 November 2014
Rabu, 19 November 2014
15 Gaya Pacaran Tahun 90-an yang Lebih Romantis dari Generasi Sekarang
ATN - Tahun 90-an adalah masa keemasan untuk menjalin hubungan pacaran yang super romantis. Saat itu perjodohan ala Siti Nurbaya sudah ditinggalkan dan gaya pacaran gila-gilaan seperti sekarang belum mewabah. Keterbatasan gadget dan teknologi juga membuat orang yang jatuh cinta jadi lebih kreatif.
Berikut ini 15 gaya pacaran seru tahun 90-an yang harus dicontoh generasi sekarang. Ikuti cara-cara ini kalau kamu mau membuat hubunganmu lebih romantis dan mendebarkan.
1. Titip salam lewat teman.
Di tahun 90-an, kebiasaan titip salam adalah gaya yang paling jitu untuk memulai hubungan percintaan. Mendapat salam orang yang tidak kita sangka tentu lebih romantis daripada disapa langsung melalui sosial media. Kalau kamu sedang naksir seseorang, segeralah kirim salam melalui relasi dekatnya!
2. Kirim-kiriman surat cinta.
Perasaan cinta yang ditulis dengan tangan di atas kertas tentu jauh lebih romantis dibandingkan SMS atau pesan chatting. Emosi dan kreativitasmu akan lebih mengena di hati pasangan jika disampaikan lewat surat cinta.
3. Wajib Wakuncar (Waktu Kunjung Pacar).
Sepertinya Hari Nasional untuk berpacaran pada tahun 90-an adalah hari Sabtu malam. Dulu anak muda akan dianggap aneh jika mengunjungi rumah pacarnya selain hari Sabtu. Makanya Wakuncar selalu ditepati dan dihabiskan sebaik mungkin dengan pasangan.
4. Kirim lagu dan pesan cinta lewat radio.
Dulu radio adalah sarana hiburan terkeren ke-2 setelah televisi. Tiba-tiba mendapat kiriman lagu dan pesan cinta saat mendengarkan radio tentu sangat romantis. Cobalah minta pacarmu untuk mendengarkan radio populer seperti Prambors, Delta FM, dll dan kirimkan requestmu kepada penyiarnya segera.
5. Buat kompilasi lagu cinta di kaset atau CD.
Dulu para pasangan biasanya saling merekam lagu-lagu cinta yang menggambarkan perasaan mereka melalui kaset atau CD. Rekaman itu bisa jadi barang berharga yang terus mengingatkan kepada momen-momen bahagia kalian.
6. Bangga dengan motor bobrok.
Kualitas cowok dulu tidak dinilai dari motornya karena budaya konsumerisme tidak marak ditampilkan di TV. Jadi jangan malu jemput pacar dengan motor seadanya. Itu malah menunjukan kalau kamu masih bekerja keras untuk meraih mimpi.
7. Kirim kartu ucapan buat keluarga pasangan waktu Hari Raya.
Dulu kartu lebaran atau Natal adalah barang penting untuk mengakrabkanmu dengan keluarga pacar. Kartu ucapan yang dikirim lewat pos lebih terasa tulus dibandingkan e-card yang bisa dikirim via email seperti saat ini.
8. Ninggalin memo cinta di antara halaman buku yang dipinjam.
Saat e-book belum marak seperti ini, anak muda dulu sering saling meminjam buku untuk dibaca. Meninggalkan memo berisi perasaan cintamu saat mengembalikan buku tentu sangat romantis dan membuat dia terkejut.
9. Tidak pacaran berdua ke luar kota atau tempat sepi.
Dulu pacaran sangat tabu jika dilakukan di tempat yang jauh dari rumah ortu atau di tempat sepi. Gaya pacaran ini wajib dipraktekkan kalau kamu sering punya pikiran mesum.
10. Rasa rindu dibiarkan berkembang.
Sekarang ini sangat mudah untuk bertemu pacar, bahkan 24 jam kamu selalu ada kesempatan ngobrol lewat sosial media. Kemudahan yang tidak didapat pada tahun 90-an ini justru membuat perasaanmu cepat bosan dengan pacar. Jadi, tumbuhkanlah rasa rindu untuk membuat hubungan semakin romatis.
11. LDR bukan hubungan yang layak dipertahankan.
Saat komunikasi masih sangat terbatas pada tahun 90-an dulu, LDR adalah hubungan yang impossible dan jarang dilakukan. Selain itu LDR juga membutuhkan komitmen, kesetiaan, dan perasaan cinta yang luar biasa besar. Jika hubungan LDRmu saat ini tidak layak dipertahankan, segera cari pacar baru yang lebih sering ada di dekatmu.
12. Memutuskan pacar secara face to face.
Saat ini hubungan pacaran atau bahkan pernikahan seringkali diputuskan hanya melalui SMS atau chatting. Cara ini sungguh tidak manusiawi dan tentunya sangat menyakiti hati mantan.
13. Kencan serba hemat dan sederhana.
Anak-anak muda tahun 90-an dulu tidak semudah sekarang untuk mendapat modal dan izin pacaran dari ortu. Jadi modal yang mereka punya biasanya berasal dari uang saku atau uang sisa gaji. Pacaran di warung sederhana yang nyaman justru lebih romantis daripada di hotel mewah yang menguras uang ortu.
14. Ciuman lebih berkesan karena menunggu waktu yang tepat.
Dulu untuk mencium pacar harus benar-benar menunggu waktu yang tepat sampai kedua belah pihak merasa nyaman dan hubungan sudah diizinkan oleh ortu. Gaya pacaran seperti ini justru membuat momen ciuman lebih berkesan untuk dikenang.
15. Masalah percintaan tidak diumbar di publik.
Di era gadget sekarang ini, kalau kamu punya masalah atau putus dengan pacar sepertinya seluruh temanmu langsung tahu lewat sosial media. Simpanlah masalahmu dengan pacarmu dan selesaikanlah bersama-sama. Hal itu tentu lebih positif dan romantis.
sumber: klik
Berikut ini 15 gaya pacaran seru tahun 90-an yang harus dicontoh generasi sekarang. Ikuti cara-cara ini kalau kamu mau membuat hubunganmu lebih romantis dan mendebarkan.
1. Titip salam lewat teman.
Di tahun 90-an, kebiasaan titip salam adalah gaya yang paling jitu untuk memulai hubungan percintaan. Mendapat salam orang yang tidak kita sangka tentu lebih romantis daripada disapa langsung melalui sosial media. Kalau kamu sedang naksir seseorang, segeralah kirim salam melalui relasi dekatnya!
2. Kirim-kiriman surat cinta.
Perasaan cinta yang ditulis dengan tangan di atas kertas tentu jauh lebih romantis dibandingkan SMS atau pesan chatting. Emosi dan kreativitasmu akan lebih mengena di hati pasangan jika disampaikan lewat surat cinta.
3. Wajib Wakuncar (Waktu Kunjung Pacar).
Sepertinya Hari Nasional untuk berpacaran pada tahun 90-an adalah hari Sabtu malam. Dulu anak muda akan dianggap aneh jika mengunjungi rumah pacarnya selain hari Sabtu. Makanya Wakuncar selalu ditepati dan dihabiskan sebaik mungkin dengan pasangan.
4. Kirim lagu dan pesan cinta lewat radio.
Dulu radio adalah sarana hiburan terkeren ke-2 setelah televisi. Tiba-tiba mendapat kiriman lagu dan pesan cinta saat mendengarkan radio tentu sangat romantis. Cobalah minta pacarmu untuk mendengarkan radio populer seperti Prambors, Delta FM, dll dan kirimkan requestmu kepada penyiarnya segera.
5. Buat kompilasi lagu cinta di kaset atau CD.
Dulu para pasangan biasanya saling merekam lagu-lagu cinta yang menggambarkan perasaan mereka melalui kaset atau CD. Rekaman itu bisa jadi barang berharga yang terus mengingatkan kepada momen-momen bahagia kalian.
6. Bangga dengan motor bobrok.
Kualitas cowok dulu tidak dinilai dari motornya karena budaya konsumerisme tidak marak ditampilkan di TV. Jadi jangan malu jemput pacar dengan motor seadanya. Itu malah menunjukan kalau kamu masih bekerja keras untuk meraih mimpi.
7. Kirim kartu ucapan buat keluarga pasangan waktu Hari Raya.
Dulu kartu lebaran atau Natal adalah barang penting untuk mengakrabkanmu dengan keluarga pacar. Kartu ucapan yang dikirim lewat pos lebih terasa tulus dibandingkan e-card yang bisa dikirim via email seperti saat ini.
8. Ninggalin memo cinta di antara halaman buku yang dipinjam.
Saat e-book belum marak seperti ini, anak muda dulu sering saling meminjam buku untuk dibaca. Meninggalkan memo berisi perasaan cintamu saat mengembalikan buku tentu sangat romantis dan membuat dia terkejut.
9. Tidak pacaran berdua ke luar kota atau tempat sepi.
Dulu pacaran sangat tabu jika dilakukan di tempat yang jauh dari rumah ortu atau di tempat sepi. Gaya pacaran ini wajib dipraktekkan kalau kamu sering punya pikiran mesum.
10. Rasa rindu dibiarkan berkembang.
Sekarang ini sangat mudah untuk bertemu pacar, bahkan 24 jam kamu selalu ada kesempatan ngobrol lewat sosial media. Kemudahan yang tidak didapat pada tahun 90-an ini justru membuat perasaanmu cepat bosan dengan pacar. Jadi, tumbuhkanlah rasa rindu untuk membuat hubungan semakin romatis.
11. LDR bukan hubungan yang layak dipertahankan.
Saat komunikasi masih sangat terbatas pada tahun 90-an dulu, LDR adalah hubungan yang impossible dan jarang dilakukan. Selain itu LDR juga membutuhkan komitmen, kesetiaan, dan perasaan cinta yang luar biasa besar. Jika hubungan LDRmu saat ini tidak layak dipertahankan, segera cari pacar baru yang lebih sering ada di dekatmu.
12. Memutuskan pacar secara face to face.
Saat ini hubungan pacaran atau bahkan pernikahan seringkali diputuskan hanya melalui SMS atau chatting. Cara ini sungguh tidak manusiawi dan tentunya sangat menyakiti hati mantan.
13. Kencan serba hemat dan sederhana.
Anak-anak muda tahun 90-an dulu tidak semudah sekarang untuk mendapat modal dan izin pacaran dari ortu. Jadi modal yang mereka punya biasanya berasal dari uang saku atau uang sisa gaji. Pacaran di warung sederhana yang nyaman justru lebih romantis daripada di hotel mewah yang menguras uang ortu.
14. Ciuman lebih berkesan karena menunggu waktu yang tepat.
Dulu untuk mencium pacar harus benar-benar menunggu waktu yang tepat sampai kedua belah pihak merasa nyaman dan hubungan sudah diizinkan oleh ortu. Gaya pacaran seperti ini justru membuat momen ciuman lebih berkesan untuk dikenang.
15. Masalah percintaan tidak diumbar di publik.
Di era gadget sekarang ini, kalau kamu punya masalah atau putus dengan pacar sepertinya seluruh temanmu langsung tahu lewat sosial media. Simpanlah masalahmu dengan pacarmu dan selesaikanlah bersama-sama. Hal itu tentu lebih positif dan romantis.
sumber: klik
Selasa, 04 November 2014
Kisah Menakjubkan Tiga Jam Terjebak di Masa Silam
ATN - Ketemu lagi bro, kali ini saya akan menulis artikel mengenai fenomena kedutan waktu yang menimpa dua orang turis yang sedang berlibur dipantai sanur ups salah bro dipantai Puys, Prancis maksudnya, bagaimana mereka merasa ketakutan bercampur bingung ditengah berkecamuknya suasana perang pada masa itu. Ini benar-benar menarik bro, sekarang kita langsung ke TKP ya.
Kisah berawal pada tanggal 4 Agustus 1951, fajar belum lagi menyingsing. Laut bergemuruh oleh derai ombak yang menghantam karang di kawasan pesisir Puys, Prancis. Subuh yang tenang dan damai dan ombak Seolah-olah berebut untuk menyambut datangnya mentari pagi. Namun hari itu berubah menjadi pengalaman menakutkan bagi dua turis perempuan asal Inggris yang sedang berlibur di Puys.
Puys, sebuah desa tepi pantai dekat pelabuhan Dieppe di Normandy, Prancis menjadi lokasi wisata alternatif dengan pemandangan pantai bening, dan tebing karang. Romantis untuk sebagian orang yang suka laut. Hal ini yang mendorong dua turis perempuan itu memilih Puys sebagai tempat liburan musim gugur.
Namun pengalaman liburan itu menjadi kenangan tak terlupakan bagi mereka.
ketika pada subuh hari itu, kedua turis perempuan itu terbangun oleh gaduhnya suara tembakan gencar. Suara itu semakin menguat dengan rentetan tembakan yang semakin gencar disusul jeritan dan tangisan yang sangat kacau, lalu tidak berapa lama kemudian terdengar dengung sejumlah pesawat pembom, disusul dengan ledakan-ledakan bom, tembakan mortir dan tembakan alat berat lainnya dari segala arah, belum lagi rasa kaget hilang terdengar lagi teriakan-teriakan yang menyayat hati… Keduanya kaget bukan kepalang.
Apa yang sedang terjadi? Kenapa semua menjadi kacau begini?, itu yang ada dipikiran mereka berdua dalam suasana kebingungan.
Mereka kini seolah berada di tengah kancah pertempuran hebat.
Suara demi suara pertempuran itu tetap menggema dan terdengar jelas oleh mereka. Namun mereka tak berani bergeming keluar dari kamarnya.
Hanya tiarap dan bersembunyi ketakutan di sudut kamar. Tubuh menggigil akibat suara tembakan dan ledakan yang kadang terdengar sangat dekat, atau suara-suara perintah khas militer dalam bahasa Inggris dan Jerman, diselingi dengan jeritan kesakitan, dan isak tangis.
Selama kurang lebih tiga jam mereka mendengar jelas semua suara pertempuran di luar sana. Sampai akhirnya suara-suara mengerikan itu semakin samar… samar… dan hilang! Debur gelombang menghantam karang sayup kembali terdengar. Fajarpun sudah menyingsing.
Setelah menenangkan diri, keduanya kemudian memberanikan diri keluar kamar. Dengan takut-takut mereka mengintip keluar jendela. Pemandangan di luar sana normal. Tak ada bekas pertempuran baru sama sekali.
Hanya ada rumah, karang, pantai, pepohonan… dan suasana keseharian di Puys.
Keduanya kemudian bertanya-tanya kepada beberapa orang yang berada di dekat sana, apakah mereka mendengar suara pertempuran barusan? Semua hanya menggeleng dengan wajah bingung. Tak ada kegaduhan apapun apalagi suara tembakan dan ledakan bom.
Seorang penduduk lokal yang agak tua mengatakan tak ada pertempuran baru di Normandia setelah D-Day "Operation Overlord" (1945) dan “Operation Jubilee” (1942). Kemudian sang kakek menjelaskan bahwa Pelabuhan Dieppe, Puys and Pourville merupakan titik pendaratan pasukan gabungan Sekutu (Inggris, Kanada, AS dan Polandia) dalam Operation Jubille 19 Agustus 1942.
Lantas, apakah yang sebenarnya sudah terjadi? Kedua turis Inggris itu tetap tak mengerti. Mereka sangat yakin bahwa apa yang mereka dengar adalah sebuah pertempuran yang bahkan seolah bisa mereka lihat. Dalam kebingungan, mereka kemudian membuat laporan ke otoritas setempat mengenai fenomena tersebut. Mulanya laporan itu diabaikan, namun akhirnya sebuah lembaga khusus di Inggris tertarik akan hal tersebut.
Detail-detail yang Mencengangkan
British Society of Psychical Research lah yang kemudian melakukan riset dan penelitian terhadap fenomena tersebut. Mereka sangat yakin bahwa apa yang dialami dua turis perempuan Inggris itu adalah bagian dari misteri alam yang tidak terpecahkan. Namun mereka punya asumsi, kemungkinan keduanya telah terjebak dalam "kedutan waktu". Suatu fenomena terbukanya semacam portal energi di suatu tempat yang memungkinkan orang bisa merasakan apa yang telah terjadi di masa lalu. Tapi Benarkah?
Mungkin saja benar. Karena penelitian terhadap laporan perempuan itu memang menunjukkan kesamaan peristiwa dengan kejadian nyata di Puys dalam gelar Operation Jubilee, yaitu operasi tempur pendaratan Sekutu di Normandia untuk memukul Jerman yang bercokol di Prancis pada 19 Agustus 1942.
Sekilas mengenai Operation Jubilee
Waktu menunjukan hampir tengah malam, 18 Agustus 1942. Sejumlah 252 kapal dari armada serbuan amfibi pasukan Sekutu bertolak dari pelabuhan Inggris. Iring-iringan yang dikawal beragam kapal perang itu bergerak pasti menuju pesisir pantai Prancis dengan sasaran kawasan Dieppe yang dikuasai pasukan NAZI Jerman.
Sebelum fajar 19 Agustus 1942 menyingsing, 6.090 pasukan gabungan Kanada dan Inggris plus Amerika Serikat, Polandia dan pejuang Prancis dan Belanda duduk gelisah di dalam ratusan kapal pendarat masing-masing. Sementara tembakan salvo bombardir laut Sekutu mulai menyalak ganas. Lantas 70 skuadron udara Sekutu (sebagian besar Angkatan Udara Inggris) terlibat sebagai bantuan tembakan dan payung udara dalam serbuan tersebut.
Sekitar 48 skuadron udara Sekutu (sebagian besar dari RAF – Inggris) memancing skuadron Luftwaffe (AU Jerman) yang melindungi pantai Dieppe dalam pertempuran terbuka.
Sementara itu gelombang pertama pasukan pendarat Kanada mulai menyentuh bibir pantai yang langsung disambut tembakan terarah dari bunker-bunker meriam pantai Jerman. Sebagian besar karam sebelum mendaratkan pasukan, sementara yang berhasil mendarat diterjang hujan peluru dari sejumlah sarang senapan mesin dan tembakan tak henti dari mortir lapangan ke area pantai yang landai.
Tiga titik penting sasaran pendaratan pasukan amfibi Sekutu di kawasan Normadia, yakni Dieppe, Puys dan Pourville, berubah menjadi neraka. Seratusan lebih personil pendarat pertama langsung disongsong kematian. Gelombang kedua kemudian segera menggantikannya namun hampir tak mendapat kemajuan berarti.
Di tiga front pesisir pantai itu tentara pendarat Sekutu itu menjadi bulan-bulanan. Sampai hampir tengah hari, serbuan itu dinyatakan gagal dengan korban luar biasa banyak. Pasukan yang belum sempat mendarat diperintahkan untuk kembali ke pangkalan, sementara yang tertinggal di pantai diperintahkan bertahan dan mundur jika memungkinkan. Hasilnya semua serdadu Kanada dan Sekutu yang tersisa akhirnya terpaksa menyerah kehabisan amunisi.
Dari, 6.090 personil Sekutu yang disiapkan untuk serbuan pantai itu, sekitar 3.623 menjadi korban yang dipastikan 1.300-an personil tewas di tempat dan sisanya terluka dan tertawan. Sementara garnisun pertahanan pantai Jerman yang diperkuat 1.500 personil, hanya 311 yang tewas dan 280 terluka.
Operation Jubilee yang juga dikenal dalam sejarah sebagai Battle of Dieppe menjadi catatan kelam serbuan amfibi besar yang dinilai gagal total yang harus dibayar mahal.
Operasi itu gagal dan kemudian menjadi bahan pertimbangan penting untuk gelar operasi tempur berikutnya "Operation Overlord" D-Day 6 Juni 1945 yang sukses mengalahkan dominasi Jerman di Prancis.
Bukti-bukti kebenaran akurasi cerita kedua turis itu dibuktikan dengan kros cek terhadap arsip data rahasia militer yang tidak pernah dipublikasikan. Hasilnya ada sejumlah besar persamaan persitiwa yang mencengangkan semua pihak.
Walau pun kedua perempuan itu mengetahui kisah tentang Operasi Jubilee di Dieppe dari banyak literatur saat itu, mereka tak akan mendapat detail penting seperti yang tercantum dalam arsip rahasia militer itu. Namun kenyataannya mereka dapat memaparkan data-data detail yang hampir persis sama dengan arsip militer tersebut.
Hmm.. Jadi pengen ya, merasakan gimana rasanya terjebak dimasa lalu, apalagi kalau terjebaknya didalam istana disamping dayang-dayang cantik...duh enaknya..
sumber: geovedi - kapanlagi
Kisah berawal pada tanggal 4 Agustus 1951, fajar belum lagi menyingsing. Laut bergemuruh oleh derai ombak yang menghantam karang di kawasan pesisir Puys, Prancis. Subuh yang tenang dan damai dan ombak Seolah-olah berebut untuk menyambut datangnya mentari pagi. Namun hari itu berubah menjadi pengalaman menakutkan bagi dua turis perempuan asal Inggris yang sedang berlibur di Puys.
Puys, sebuah desa tepi pantai dekat pelabuhan Dieppe di Normandy, Prancis menjadi lokasi wisata alternatif dengan pemandangan pantai bening, dan tebing karang. Romantis untuk sebagian orang yang suka laut. Hal ini yang mendorong dua turis perempuan itu memilih Puys sebagai tempat liburan musim gugur.
Namun pengalaman liburan itu menjadi kenangan tak terlupakan bagi mereka.
ketika pada subuh hari itu, kedua turis perempuan itu terbangun oleh gaduhnya suara tembakan gencar. Suara itu semakin menguat dengan rentetan tembakan yang semakin gencar disusul jeritan dan tangisan yang sangat kacau, lalu tidak berapa lama kemudian terdengar dengung sejumlah pesawat pembom, disusul dengan ledakan-ledakan bom, tembakan mortir dan tembakan alat berat lainnya dari segala arah, belum lagi rasa kaget hilang terdengar lagi teriakan-teriakan yang menyayat hati… Keduanya kaget bukan kepalang.
Apa yang sedang terjadi? Kenapa semua menjadi kacau begini?, itu yang ada dipikiran mereka berdua dalam suasana kebingungan.
Mereka kini seolah berada di tengah kancah pertempuran hebat.
Suara demi suara pertempuran itu tetap menggema dan terdengar jelas oleh mereka. Namun mereka tak berani bergeming keluar dari kamarnya.
Hanya tiarap dan bersembunyi ketakutan di sudut kamar. Tubuh menggigil akibat suara tembakan dan ledakan yang kadang terdengar sangat dekat, atau suara-suara perintah khas militer dalam bahasa Inggris dan Jerman, diselingi dengan jeritan kesakitan, dan isak tangis.
Selama kurang lebih tiga jam mereka mendengar jelas semua suara pertempuran di luar sana. Sampai akhirnya suara-suara mengerikan itu semakin samar… samar… dan hilang! Debur gelombang menghantam karang sayup kembali terdengar. Fajarpun sudah menyingsing.
Setelah menenangkan diri, keduanya kemudian memberanikan diri keluar kamar. Dengan takut-takut mereka mengintip keluar jendela. Pemandangan di luar sana normal. Tak ada bekas pertempuran baru sama sekali.
Hanya ada rumah, karang, pantai, pepohonan… dan suasana keseharian di Puys.
Keduanya kemudian bertanya-tanya kepada beberapa orang yang berada di dekat sana, apakah mereka mendengar suara pertempuran barusan? Semua hanya menggeleng dengan wajah bingung. Tak ada kegaduhan apapun apalagi suara tembakan dan ledakan bom.
Seorang penduduk lokal yang agak tua mengatakan tak ada pertempuran baru di Normandia setelah D-Day "Operation Overlord" (1945) dan “Operation Jubilee” (1942). Kemudian sang kakek menjelaskan bahwa Pelabuhan Dieppe, Puys and Pourville merupakan titik pendaratan pasukan gabungan Sekutu (Inggris, Kanada, AS dan Polandia) dalam Operation Jubille 19 Agustus 1942.
Lantas, apakah yang sebenarnya sudah terjadi? Kedua turis Inggris itu tetap tak mengerti. Mereka sangat yakin bahwa apa yang mereka dengar adalah sebuah pertempuran yang bahkan seolah bisa mereka lihat. Dalam kebingungan, mereka kemudian membuat laporan ke otoritas setempat mengenai fenomena tersebut. Mulanya laporan itu diabaikan, namun akhirnya sebuah lembaga khusus di Inggris tertarik akan hal tersebut.
Detail-detail yang Mencengangkan
British Society of Psychical Research lah yang kemudian melakukan riset dan penelitian terhadap fenomena tersebut. Mereka sangat yakin bahwa apa yang dialami dua turis perempuan Inggris itu adalah bagian dari misteri alam yang tidak terpecahkan. Namun mereka punya asumsi, kemungkinan keduanya telah terjebak dalam "kedutan waktu". Suatu fenomena terbukanya semacam portal energi di suatu tempat yang memungkinkan orang bisa merasakan apa yang telah terjadi di masa lalu. Tapi Benarkah?
Mungkin saja benar. Karena penelitian terhadap laporan perempuan itu memang menunjukkan kesamaan peristiwa dengan kejadian nyata di Puys dalam gelar Operation Jubilee, yaitu operasi tempur pendaratan Sekutu di Normandia untuk memukul Jerman yang bercokol di Prancis pada 19 Agustus 1942.
Sekilas mengenai Operation Jubilee
Waktu menunjukan hampir tengah malam, 18 Agustus 1942. Sejumlah 252 kapal dari armada serbuan amfibi pasukan Sekutu bertolak dari pelabuhan Inggris. Iring-iringan yang dikawal beragam kapal perang itu bergerak pasti menuju pesisir pantai Prancis dengan sasaran kawasan Dieppe yang dikuasai pasukan NAZI Jerman.
Sebelum fajar 19 Agustus 1942 menyingsing, 6.090 pasukan gabungan Kanada dan Inggris plus Amerika Serikat, Polandia dan pejuang Prancis dan Belanda duduk gelisah di dalam ratusan kapal pendarat masing-masing. Sementara tembakan salvo bombardir laut Sekutu mulai menyalak ganas. Lantas 70 skuadron udara Sekutu (sebagian besar Angkatan Udara Inggris) terlibat sebagai bantuan tembakan dan payung udara dalam serbuan tersebut.
Sekitar 48 skuadron udara Sekutu (sebagian besar dari RAF – Inggris) memancing skuadron Luftwaffe (AU Jerman) yang melindungi pantai Dieppe dalam pertempuran terbuka.
Sementara itu gelombang pertama pasukan pendarat Kanada mulai menyentuh bibir pantai yang langsung disambut tembakan terarah dari bunker-bunker meriam pantai Jerman. Sebagian besar karam sebelum mendaratkan pasukan, sementara yang berhasil mendarat diterjang hujan peluru dari sejumlah sarang senapan mesin dan tembakan tak henti dari mortir lapangan ke area pantai yang landai.
Tiga titik penting sasaran pendaratan pasukan amfibi Sekutu di kawasan Normadia, yakni Dieppe, Puys dan Pourville, berubah menjadi neraka. Seratusan lebih personil pendarat pertama langsung disongsong kematian. Gelombang kedua kemudian segera menggantikannya namun hampir tak mendapat kemajuan berarti.
Di tiga front pesisir pantai itu tentara pendarat Sekutu itu menjadi bulan-bulanan. Sampai hampir tengah hari, serbuan itu dinyatakan gagal dengan korban luar biasa banyak. Pasukan yang belum sempat mendarat diperintahkan untuk kembali ke pangkalan, sementara yang tertinggal di pantai diperintahkan bertahan dan mundur jika memungkinkan. Hasilnya semua serdadu Kanada dan Sekutu yang tersisa akhirnya terpaksa menyerah kehabisan amunisi.
Dari, 6.090 personil Sekutu yang disiapkan untuk serbuan pantai itu, sekitar 3.623 menjadi korban yang dipastikan 1.300-an personil tewas di tempat dan sisanya terluka dan tertawan. Sementara garnisun pertahanan pantai Jerman yang diperkuat 1.500 personil, hanya 311 yang tewas dan 280 terluka.
Operation Jubilee yang juga dikenal dalam sejarah sebagai Battle of Dieppe menjadi catatan kelam serbuan amfibi besar yang dinilai gagal total yang harus dibayar mahal.
Operasi itu gagal dan kemudian menjadi bahan pertimbangan penting untuk gelar operasi tempur berikutnya "Operation Overlord" D-Day 6 Juni 1945 yang sukses mengalahkan dominasi Jerman di Prancis.
Bukti-bukti kebenaran akurasi cerita kedua turis itu dibuktikan dengan kros cek terhadap arsip data rahasia militer yang tidak pernah dipublikasikan. Hasilnya ada sejumlah besar persamaan persitiwa yang mencengangkan semua pihak.
Walau pun kedua perempuan itu mengetahui kisah tentang Operasi Jubilee di Dieppe dari banyak literatur saat itu, mereka tak akan mendapat detail penting seperti yang tercantum dalam arsip rahasia militer itu. Namun kenyataannya mereka dapat memaparkan data-data detail yang hampir persis sama dengan arsip militer tersebut.
Hmm.. Jadi pengen ya, merasakan gimana rasanya terjebak dimasa lalu, apalagi kalau terjebaknya didalam istana disamping dayang-dayang cantik...duh enaknya..
sumber: geovedi - kapanlagi
Langganan:
Komentar (Atom)















